So, Its my experience. Jadi disemester yang baru ini aku mendapat mata kuliah baru, namanya pengukuran kinerja, nah buat anak-anak Ekonomi pastinya sudah tahu. Referensi bukunya belum ada dari Indonesia, karena itu sudah bisa ditebak bahwa seluruh teori yang didapat berasal dari luar, tentunya dalam bahasa asing. Ini yang banyak buat teman-teman sekelas mengeluh dan termasuk aku yang sedikit mengeluh, bayangkan saja, buku wajib pegangan yang diberikan oleh Dosenku adalah karya Theodore H. Poister, buku ini full English, dan dengan kata-kata baku yang kadang membuat aku sedikit kewalahan untuk menterjemahkannya. Ini dia faktor penting dari hal yang ingin aku ceritakan disini. Belajar dan mengerti bahasa asing itu sangat penting, apapun itu, setidaknya kita bisa mengerti salah satu bahasa asing didunia ini, misalnya Mandarin, dan yang terpenting itu pasti Inggris. Sekarang Aku sedang Mendalami Bahasa Negeri Ginseng yaitu Korea dan selanjutnya aku ingin belajar bahasa Rusia atau negeri Eropa Lain, aku pikir karena mereka menggunakan Huruf yang berbeda dari Negara Lain Kebanyakan, Kalau Korea Hurufnya kita sebuat Hangul (한글) dan ini yang membuat aku tertarik untuk mempelajarinya selain hurufnya yang mudah di Ingat tata bahasanya yang Indah dan enak didengar, setelah itu Cyliric, huruf rusia ini lucu dan agak ribet untuk dipelajari, karena kita belum terbiasa dengan huruf-huruf yang dibalik.
well, itu saja post aku kali ini. semoga kita selalu bersemangat untuk belajar bahasa asing apapun itu.
Senin, Maret 28, 2011
Sabtu, Maret 05, 2011
Ratu dengan 4 Putri dan 3 Pangeran (Part I) -Lanjutan
ini lanjutan yang kemarin ya.
Namun bukan berarti ayahku tidak pernah memukul. bagiku itu bukanlah kekerasan, itu hanya pelajaran yang ayahku berikan kepada abangku, yang menurutku itu memang sudah keterlaluan, begitu yang aku dengar cerita dari kakak-kakak ku, aku tidak ingat pasti apa ceritanya, yang jelas itu adalah kesalahan abangku yang tidak mau mendengar perkataan ayahku.
Itu hanya cerita lain, setelah kepergian ayahku, kami semua harus bangkit, harus bangkit dari kesedihan, dari semua hal yang tak berguna untuk disesali. Langkah pertama yang ibuku lakukan adalah, dengan menjual rumah kami, hanya sekedar informasi, kami sudah pernah pindah rumah sebelumnya, dulu kami sekeluarga tinggal di Rumah Panggung (Rumah Khas Melayu) di tempat inek (panggilan melayu ngabang untuk nenek), tepatnya didesa raja. Waktu itu aku belum lahir, jadi aku tidak tahu pasti kronologis kepindahan kami.
Ibuku pun menjual rumah kenangan itu, rumah dimana ada tawa dan kesedihan ayah, rumah dimana pernah ada teriakan kemarahan ayah pada saudara-saudaraku (aku belum pernah dimarah mungkin, maklum masih kecil), tiada lagi kata, "jangan main sampai magrib," itulah kata yang sering ayahku bilang pada saudara-saudaraku, maklum saja, didekat rumah banyak anak yang seumuran dengan mereka.
Akhirnya kepindahan itu terjadi, kami sekeluarga (lagi-lagi tanpa ayah) pindah ke daerah pasar, lebih tepatnya namanya pasar jati, aku tidak ingat pasti kepindahan itu berlangsung bagaiman, yang aku ingat rumah yang kami tinggali itu adalah RuKo (rumah toko) bekas pabrik air bersoda (aku menyebutnya Pipo), disanalah kami merajut kembali kehidupan baru dengan seorang Ratu dan 7 orang Anaknya.
Untuk menghidupi kami, ibuku bekerja sebagai buruh kasar tambang pasit didekat rumah, dibelakang rumahku 20 meter ada sungai, dan disana banyak penambang pasir dan batu. Pengahasilan dari menggangkut pasir menggunakan semacam keranjang yang di gendong (Enge, nama daerahnya) lumayan untuk makan, lalu pasti bertanya bagaimana ibu membiayai sekolah ?
Ayah meninggal sebagai PNS, sehingga ada dana pensiun yang diberikan, setidaknya saudara-saudaraku masih bisa bersekolah.
Aku masih ingat betul, aku sering membantu ibu mengangkut pasir itu juga namun dalam jumlah sedikit, aku merasakan panas yang juga ibu rasakan, merasakan haus yang ibu rasakan, namun tak ada keluar sedikitpun keluhan dari mulutnya.
Karena didaerahku masih banyak hutan, biasanya ibuku setelah bekerja mencari sayuran hutan berupa pakis atau memetik daun katuk (kami menyebutnya cangkok) di belakang rumah.
untuk lauk, karena disaudara aku tidak suka makan ikan, jadi ibu selalu membelikan ayam, namun jika tidak ada uang, ceker atau sayapnya pun ibuku belikan agar aku mau makan.
Selain bekerja sebagai buruh kasar, ibuku juga bekerja bersama seorang tionghoa, yang hingga saat ini aku tidak tahu pasti namanya, namun biasanyaa aku memanggilnya kak chu , ibuku adalah seorang yang gaul (pada zamannya) karena apa, beliau begitu banyak teman mulai dari berbagai suku dan agama.
suatu ketika aku pernah bertanya.
" Mak, ngape beh umak suke jalan-jalan same kak chu ? dia kan china," tanyaku dengan nada lugu
"Jangan pernah milih-milih dalam bekawan, walaupun beda suku, inyankan hanya identitas, inyan yang jadi kebanggaan, kelak suatu saat direk (kita) pasti butuh bantuan dan dua' die (mereka) juga butuh bantuan dire', jadi bekawan dengan siape jak dak akan membuat direk rugi, " jawab ibu ku.
Maklum saja, namanya anak kecil selalu ingin tahu sesuatu yang tidak ia mengerti.
*bersambung*
Namun bukan berarti ayahku tidak pernah memukul. bagiku itu bukanlah kekerasan, itu hanya pelajaran yang ayahku berikan kepada abangku, yang menurutku itu memang sudah keterlaluan, begitu yang aku dengar cerita dari kakak-kakak ku, aku tidak ingat pasti apa ceritanya, yang jelas itu adalah kesalahan abangku yang tidak mau mendengar perkataan ayahku.
Itu hanya cerita lain, setelah kepergian ayahku, kami semua harus bangkit, harus bangkit dari kesedihan, dari semua hal yang tak berguna untuk disesali. Langkah pertama yang ibuku lakukan adalah, dengan menjual rumah kami, hanya sekedar informasi, kami sudah pernah pindah rumah sebelumnya, dulu kami sekeluarga tinggal di Rumah Panggung (Rumah Khas Melayu) di tempat inek (panggilan melayu ngabang untuk nenek), tepatnya didesa raja. Waktu itu aku belum lahir, jadi aku tidak tahu pasti kronologis kepindahan kami.
Ibuku pun menjual rumah kenangan itu, rumah dimana ada tawa dan kesedihan ayah, rumah dimana pernah ada teriakan kemarahan ayah pada saudara-saudaraku (aku belum pernah dimarah mungkin, maklum masih kecil), tiada lagi kata, "jangan main sampai magrib," itulah kata yang sering ayahku bilang pada saudara-saudaraku, maklum saja, didekat rumah banyak anak yang seumuran dengan mereka.
Akhirnya kepindahan itu terjadi, kami sekeluarga (lagi-lagi tanpa ayah) pindah ke daerah pasar, lebih tepatnya namanya pasar jati, aku tidak ingat pasti kepindahan itu berlangsung bagaiman, yang aku ingat rumah yang kami tinggali itu adalah RuKo (rumah toko) bekas pabrik air bersoda (aku menyebutnya Pipo), disanalah kami merajut kembali kehidupan baru dengan seorang Ratu dan 7 orang Anaknya.
Untuk menghidupi kami, ibuku bekerja sebagai buruh kasar tambang pasit didekat rumah, dibelakang rumahku 20 meter ada sungai, dan disana banyak penambang pasir dan batu. Pengahasilan dari menggangkut pasir menggunakan semacam keranjang yang di gendong (Enge, nama daerahnya) lumayan untuk makan, lalu pasti bertanya bagaimana ibu membiayai sekolah ?
Ayah meninggal sebagai PNS, sehingga ada dana pensiun yang diberikan, setidaknya saudara-saudaraku masih bisa bersekolah.
Aku masih ingat betul, aku sering membantu ibu mengangkut pasir itu juga namun dalam jumlah sedikit, aku merasakan panas yang juga ibu rasakan, merasakan haus yang ibu rasakan, namun tak ada keluar sedikitpun keluhan dari mulutnya.
Karena didaerahku masih banyak hutan, biasanya ibuku setelah bekerja mencari sayuran hutan berupa pakis atau memetik daun katuk (kami menyebutnya cangkok) di belakang rumah.
untuk lauk, karena disaudara aku tidak suka makan ikan, jadi ibu selalu membelikan ayam, namun jika tidak ada uang, ceker atau sayapnya pun ibuku belikan agar aku mau makan.
Selain bekerja sebagai buruh kasar, ibuku juga bekerja bersama seorang tionghoa, yang hingga saat ini aku tidak tahu pasti namanya, namun biasanyaa aku memanggilnya kak chu , ibuku adalah seorang yang gaul (pada zamannya) karena apa, beliau begitu banyak teman mulai dari berbagai suku dan agama.
suatu ketika aku pernah bertanya.
" Mak, ngape beh umak suke jalan-jalan same kak chu ? dia kan china," tanyaku dengan nada lugu
"Jangan pernah milih-milih dalam bekawan, walaupun beda suku, inyankan hanya identitas, inyan yang jadi kebanggaan, kelak suatu saat direk (kita) pasti butuh bantuan dan dua' die (mereka) juga butuh bantuan dire', jadi bekawan dengan siape jak dak akan membuat direk rugi, " jawab ibu ku.
Maklum saja, namanya anak kecil selalu ingin tahu sesuatu yang tidak ia mengerti.
*bersambung*
Rabu, Maret 02, 2011
Ratu dengan 4 Putri dan 3 Pangeran (Part I)
di post kali ini, cerita Khusu, tentang IBU aku.
kami adalah dengan jumlah saudara yang cukup banyak, maklum saja, dulu program KB belum gencar dikampungku. aku memiliki 6 saudara lagi, aku anak bungsu, artinya Ibu ku punya 7 orang anak. yah, mungkin hal yang wajar jika saja kami ber-7 memilik seorang ayah dan seorang Ibu. namun, yang membuat kalian akan tersentak adalah, ibuku merupakan seorang single parent. harus menghidupi 7 orang anak sekaligus, harus membiayai segala macam kebutuhan kami. saat itu, saat dimana dimulai kehidupan baru untuk Ibuku, aku dan saudara-saudaraku. tepat pada saat aku berumur sekita 2 tahun setengah bulan, sang raja dikeluarga kami pergi, pergi menghadap raja yang lebih tinggi lagi. Ayahku pergi, meninggalkan kami, Istri dan anak-anaknya, pergi disaat Putri tertuanya akan lulus dari SMA dan ingin melanjutkan kuliah, kejadian itu terpaksa membuat Kakakku itu memupuskan harapannya sendiri untuk menjadi calon guru.
Ayahku pergi tidak meninggalkan Harta atau warisan seperti raja-raja lain, tidak meninggalkan tahta yang megah atau semacamnya, dia hanya meninggalkan ILMU , ilmu yang diajarkan ke Ibuku bagaimana mendidik anak-anaknya kelak, mendidik anaknya setidaknya berguna untuk dirinya sendiri dan lingkungannya, ayahku Tegas dan dia tidak pernah mengajarkan kekerasan dalam ketegasannya.
*bersambung*
kami adalah dengan jumlah saudara yang cukup banyak, maklum saja, dulu program KB belum gencar dikampungku. aku memiliki 6 saudara lagi, aku anak bungsu, artinya Ibu ku punya 7 orang anak. yah, mungkin hal yang wajar jika saja kami ber-7 memilik seorang ayah dan seorang Ibu. namun, yang membuat kalian akan tersentak adalah, ibuku merupakan seorang single parent. harus menghidupi 7 orang anak sekaligus, harus membiayai segala macam kebutuhan kami. saat itu, saat dimana dimulai kehidupan baru untuk Ibuku, aku dan saudara-saudaraku. tepat pada saat aku berumur sekita 2 tahun setengah bulan, sang raja dikeluarga kami pergi, pergi menghadap raja yang lebih tinggi lagi. Ayahku pergi, meninggalkan kami, Istri dan anak-anaknya, pergi disaat Putri tertuanya akan lulus dari SMA dan ingin melanjutkan kuliah, kejadian itu terpaksa membuat Kakakku itu memupuskan harapannya sendiri untuk menjadi calon guru.
Ayahku pergi tidak meninggalkan Harta atau warisan seperti raja-raja lain, tidak meninggalkan tahta yang megah atau semacamnya, dia hanya meninggalkan ILMU , ilmu yang diajarkan ke Ibuku bagaimana mendidik anak-anaknya kelak, mendidik anaknya setidaknya berguna untuk dirinya sendiri dan lingkungannya, ayahku Tegas dan dia tidak pernah mengajarkan kekerasan dalam ketegasannya.
*bersambung*
Selasa, Februari 22, 2011
Putih Abu-abu dan Pelangi : last part
Evan HanggaraDan seperti yang gw katakan di First Post about This title, gw mau menceritakan sahabat-sahabat gw disini, dan ini akhir dari ke-3 sahabat gw yang gw akan ceritakan di POST gw kali ini.
Langsung ke TKP
dan lagi, dia seorang laki-laki paruh baya, sebut saja bunga (ekh, mirip korban pencabulan ya ? pake nama bunga pula) hahaha
but, itu semua palsu readlidd, dia juga angkatan gw, cuma dia kelahiran 91, dan gw 90, beda setaun doang, tentunya wajah gw lebih muda kok, dia agak boros wajahnya.
Namanya gw hafal banget, Julius Evan Hanggara Mas. gw kenal dari dia masih kecil, dari kita blm sekolah, sampai kita 1 SD, 1 SMP dan 1 SMA. dan waktu kecil juga, dia temen deket gw, ekh gak deh, dia yg sok-sok gitu dekat sama gw. hahaha
hemm, kita mulai serius dikit, dia itu anak yang sangat pintar ketika SD, dia adalah saingan gw, He is Nice Friend and Good Competitor.
sedikit banyak gw belajar apapun dari dia, selain dia punya fasilitas dan dia seorang teman yang baik dari sisi apapun itu.
Sekarang epan kuliah di Arsitek tuk, dia bakalan jadi arsitektur yang handal gw yakin itu.
Jika pada mau tau gmn orangnya, ini Akun dia di FB Evan Hanggara
ok sekian post kali ini, gw lagi pengen cari orang yang bisa membenarkan Blog yg tidak begitu unyu ini.
Langsung ke TKP
dan lagi, dia seorang laki-laki paruh baya, sebut saja bunga (ekh, mirip korban pencabulan ya ? pake nama bunga pula) hahaha
but, itu semua palsu readlidd, dia juga angkatan gw, cuma dia kelahiran 91, dan gw 90, beda setaun doang, tentunya wajah gw lebih muda kok, dia agak boros wajahnya.
Namanya gw hafal banget, Julius Evan Hanggara Mas. gw kenal dari dia masih kecil, dari kita blm sekolah, sampai kita 1 SD, 1 SMP dan 1 SMA. dan waktu kecil juga, dia temen deket gw, ekh gak deh, dia yg sok-sok gitu dekat sama gw. hahaha
hemm, kita mulai serius dikit, dia itu anak yang sangat pintar ketika SD, dia adalah saingan gw, He is Nice Friend and Good Competitor.
sedikit banyak gw belajar apapun dari dia, selain dia punya fasilitas dan dia seorang teman yang baik dari sisi apapun itu.
Sekarang epan kuliah di Arsitek tuk, dia bakalan jadi arsitektur yang handal gw yakin itu.
Jika pada mau tau gmn orangnya, ini Akun dia di FB Evan Hanggara
ok sekian post kali ini, gw lagi pengen cari orang yang bisa membenarkan Blog yg tidak begitu unyu ini.
Rabu, Januari 19, 2011
Esai apa Essay ?
Pangeran Ketujuh
Pada rabu tengah hari, lahir bayi laki-laki dengan kulit putih bersih tepat sehabis azan zuhur. Kalender menunjukan tanggal 17 Oktober 1990 kala itu. Ibu dari bayi laki-laki itu kemudian mengalami pendarahan dan segera dibawa kerumah sakit oleh bidan yang bertanggung jawab untuk mendapatkan pertolongan.
Bayi laki-laki yang dilahirkan itulah aku, nama lengkap yang diberikan kepadaku adalah Ya’ Muhammad Maulidin, nama yang diberikan bukan dari ayah maupun ibuku, tetapi nama yang diberikan oleh semacam sahabat dekat dan masih ada hubungan saudara dengan ayahku. Entah kenapa ayahku memberi kepercayaan kepada sahabatnya itu untuk memberi nama kepadaku, Nama yang ku pikir mengandung doa yang dalam dan harapan yang besar terbeban kepadaku. Aku anak bungsu dari 7 bersaudara, dengan saudara tertua wanita yang memiliki jiwa yang besar dan aku banyak belajar dari saudara-saudara ku. Jika kujelaskan namaku, maka begini penjelasannya, Ya’ itu adalah semacam marga atau gelar yang diberikan kepada keturunan-keturunan keraton atau raja-raja, itu gelar untuk lelaki, sedangka wanita Nyemas, begitu yang aku ketahui. Sedangkan nama Muhammad dan Maulidin adalah nabi dari agama yang ku anut. Aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang sangat sederhana, karena ayahku meninggal pada saat aku berumur 2,5 tahun dan hanya meninggalkan pensiun kepada kami semua, untuk itu ibuku mencari tambahan dengan bekerja apa saja, yang aku ketahui beliau menjadi buruh pengangkut pasir dan batu, terkadang sepulang sekolah atau hari libur aku juga turut membantu. Lalu, perusahaan pasir itu bangkrut dan ibuku beralih menjadi petani karet, karet yang dimiliki perusahaan.
Pengalaman mulai dari belum sekolah hingga sekarang ketika aku mulai menjejaki bangku kuliah, aku belajar tentang menghadapi diri sendiri. Selama 5 Tahun di Sekolah Dasar aku belum pernah sekalipun mendapatkan peringkat pertama maupun kedua dikelas, entah kenapa yang mendapat peringkat tersebut adalah anak salah satu guru yang kebetulan mengajar di SD tersebut. Padahal aku sudah belajar semampu yang aku bisa ketika itu. Menurutku aku tidak terlalu bodoh dan nilai harianku juga selalu memuaskan. Aku selalu berusaha agar mendapatkan peringkat 2 ataupun 1, jerih payahku terjawab pada kelas 6 aku berhasil mendapatkan peringkat satu pada semester ganjil dan yang menduduki 3 besar adalah orang-orang yang tidak langganan juara pada 5 tahun terakhir, ini karena guru pengajar bukan lagi salah satu orang tua dari muridnya. Melalui kejadian itu aku belajar bahwa sesuatu kebenaran harus selalu di perjuangkan.
Kemudian ketika menduduki bangku Sekolah Menengah Pertama, aku bertemu dengan teman-teman yang membuatku selalu giat untuk belajar, mereka semua teman-teman yang memiliki kemampuan yang sangat luar biasa, dari sinilah aku belajar bekerja dalam tim sepenuhnya. Tugas yang diberikan oleh guru yang mengharuskan kami semua untuk bekerja secara berkelompok membuat ke egoisan masing-masing dari kami luntur, “untuk menjadi yang terbaik bukan menjatuhkan sesama, tapi bagaimana membuat kita semua mengerti proses bersaing,” begitu kata guru Matematikaku. Bekerja dalam tim memang tidak mudah, untuk mencapai kemudahan itu kita harus mengerti satu dengan yang lain.
Orang bilang: “ masa-masa SMA adalah masa yang tidak terlupakan,” kata-kata itu ada benarnya dan sangat aku mendukung itu. Permulaan SMA aku mulai lebih giat lagi untuk belajar karena setelah dari sini akan dimulai kehidupan yang baru yaitu ‘kuliah.’ Memasuki SMA tidaklah mudah bagiku, karena ketika itu SMA favorit di daerahku dan kebetulan abang iparku sebagai salah satu staf Tata Usaha, sehingga aku harus berusaha keras menghilangkan pandangan bahwa aku lulus di SMA ini bukan karena ada abang iparku disana. Aku mengikuti tahap seleksi tertulis dan lolos dengan great nilai 82 dari 100 soal campuran, hasil tes dibacakan hari itu juga didepan peserta test yang lain.
Perjalanan di SMA semakin asik saja, kelas 10 pertengahan semester genap tiba-tiba aku diutus bersama temanku seorang siswi untuk pergi ke Pontianak menghadiri Loka Karya yang diadakan salah satu LSM di Kalimantan Barat. Disana aku bertemu dengan teman-teman baru dari kabupaten dan kota lain. Aku merasakan aku mendapati diriku sebagai seseorang yang mudah bergaul dan selalu ingin di akui keberadaannya. Benar saja, aku pun dipilih sebagai salah satu ketua tim ketika pembagian kelompok untuk memberikan aksi mengenai wajah pendidikan di Kal-Bar pada saat itu. Aku termasuk orang yang mudah bergaul, sehingga tidak sulit bagiku untuk akrab dengan siapa saja.
Tahun berganti, aku naik kelas 11. Aku memilih jurusan IPA, sebelum naik kelas 11 sebulan sebelumnya aku dikirim ke Palembang untuk menjadi peserta Jumbara Nasional PMR VI, untuk mencapai tahap ini aku sebelumnya seleksi di sekolah dahulu. Aku merupakan Junior di PMR SMA ku pada waktu itu, melihat pengumuman bahwa akan ada seleksi untuk di kirim ke Jumbara Daerah, aku niatkan diri untuk ikut seleksi. Tapi takdir berkehendak lain, pada saat waktu seleksi aku sakit sehingga tidak bisa hadir, aku kecewa. Namun, aku berusaha agar aku dapat ikut seleksi juga, ternyata ada teman yang senasib, ada sekitar 8 orang sehingga kami meminta agar kami diseleksi, alhasil seleksi yang diharapkan adalah berupa menuliskan artikel mengenai PMR kala itu. Aku lulus seleksi dan aku dikirim ke Jumbara Daerah dan aku juga lulus seleksi untuk mewakili kalbar ke Jumbara Nasional di Palembang.
Aku juga pernah mewakili Kal-Bar di Bulan Bahasa, saat itu lomba musikalisasi puisi, sayangnya kami tidak berhasil membawa pulang piala.
Kelulusan tiba, aku lulus dari SMA dan Mengikuti seleksi Universitas, aku Lulus namun tidak sesuai dengan jurusan yang aku harapkan sehingga aku memilih seleksi lagi dan lulus aku mengambil jurusan Akuntansi yang sangat bertolak belakang dengan jurusanku, namun inilah tantangan yang harus aku hadapi. Kampusku yang sekarang aku mengikuti salah satu organisasi kemahasiswaan dan dari situlah aku berhasil menjadi delegasi mewakili kampus untuk pengembangan wawasan Internasional ke Korea Selatan. Aku harus mengikuti seleksi kampus dulu, dengan wawancara yang dilakukan dan kemudian membuat makalah untuk dikirim ke Direktorat Pendidikan Tinggi, ada beberapa masalah yang tidak harus kuceritakan karena melibatkan beberapa pihak dalam masalah tersebut.
Menjadi anak bungsu menjadi beban tersendiri bagiku, karena harus memiliki telinga yang kebal untuk dibanding-bandingkan serta harus rela menjadi bulan-bulanan kejahilan oleh saudara-saudara yang lain. Namun, aku senang menjadi anak ke-7 dan bungsu dari saudara-saudara yang membuat aku belajar untuk tidak mengeluh dengan keadaan.
Minggu, Januari 09, 2011
Putih Abu-abu dan Pelangi ! Part 2
Baiklah, postingan tanggal "8 Nov 2010" dan sudah begitu lama tidak saya lanjutkan, kini saya lanjutkan kembali.
Ini kisah tentang Sahabat saya yang begitu baik.
His Name Afnindy Leo Putra
Seorang Sahabat yang saya kenal pertama kali mendengarkan Arahan MOS (Masa Orientasi Siswa) waktu masuk SMA dulu,
Awal Kenalannya begini
pagi itu langit masih terlihat biru, saya berjalan dengan tergopoh-gopoh memasuki gerbang SMA Negeri 1 Ngabang. Saya kira hanya saya yang terlambat, ternyata begitu banyak Siswa Baru yang terlambat, dan sedikit membuat saya lega.
Kami pun di perintahkan untuk berkumpul di lapangan upacara oleh kakak-kakak kelas yang berwajah Innocent dan sedikit menyebalkan, disini belum terjadi apa-apa.
ketika berkumpul disebelah saya berdiri seorang Siswa baru juga, saya membuka pembicaraan
Saya : Hei. Whats your name ? (dengan sok-sok inggris saya menyapa)
Beliau: Afnindy Leo Putra, panggil aja Leo (Dia Masih sok Cool)
Saya: Dari SMP mana ? (saya mulai mengakrabkan diri, karena kasihan melihat wajahnya yang lugu :P)
Beliau : SMP 1 Beduai (dia masih Jaim)
Saya: Hah ? Dimana tuh, Dak NGETOP. . :D (Saya memang orangnya Ekspresif, jadi gak bisa menyembunyikan Rasa)
Beliau : Hahaha (dia tertawa Garing)
Itulah awal kenalan Kami yang berujung pada Persahabatan 4 Lelaki Absurd yang Gila.
Leo begitu saya memanggilnya
Tidak disangka ternyata pada pengumuman pembagian kelompok MOS saya 1 Kelompok dengan Beliau. :p
Yah, dikelompok itu saya dipilih menjadi Ketua kelompok, dan membuat saya sedikit terbebani, karena harus memimpin sejumlah teman-teman yang tidak begitu saya kenal.
Leo pernah bilang pada saya.
Beliau : Lid ! dulu aku kira kau itu anak paskib, abis klo kau nyiapkan barisan pasti badan kau tegap sekali (Nada bicara nya ini sedikit mengOLOK, kebetulan saya tidak tinggi bukan rendah yaa.. :P)
Saya : hahaha (tertawa Garing)
Hemm, ya itu perkenalan kita.
Leo itu seorang yang memiliki kecerdasan Linguistik yang patut saya acungi jempol, berkat dia, saya setidaknya bisa BaBiBuBeBo dalam Bahasa Inggris, dia orangnya mudah bergaul.
Dan agak sedikit tempramental, klo menurut saya.
Berhubung Fotonya gak Saya bawa di FlashDisk Saya, jadi saya tampilkan Link Akun Jejaring Sosial dia Afnindy Leo Putra .
Leo ini juga Sangat Maniak Manga. Salah satu kebisaannya yang sangat saya kagumi adalah Leo Bisa Menggambar Dengan Apik segala macam Kartun Jepang. :)
Saya Bangga Punya Teman Seperti Mereka.
*to be Continued*
Ini kisah tentang Sahabat saya yang begitu baik.
His Name Afnindy Leo Putra
Seorang Sahabat yang saya kenal pertama kali mendengarkan Arahan MOS (Masa Orientasi Siswa) waktu masuk SMA dulu,
Awal Kenalannya begini
pagi itu langit masih terlihat biru, saya berjalan dengan tergopoh-gopoh memasuki gerbang SMA Negeri 1 Ngabang. Saya kira hanya saya yang terlambat, ternyata begitu banyak Siswa Baru yang terlambat, dan sedikit membuat saya lega.
Kami pun di perintahkan untuk berkumpul di lapangan upacara oleh kakak-kakak kelas yang berwajah Innocent dan sedikit menyebalkan, disini belum terjadi apa-apa.
ketika berkumpul disebelah saya berdiri seorang Siswa baru juga, saya membuka pembicaraan
Saya : Hei. Whats your name ? (dengan sok-sok inggris saya menyapa)
Beliau: Afnindy Leo Putra, panggil aja Leo (Dia Masih sok Cool)
Saya: Dari SMP mana ? (saya mulai mengakrabkan diri, karena kasihan melihat wajahnya yang lugu :P)
Beliau : SMP 1 Beduai (dia masih Jaim)
Saya: Hah ? Dimana tuh, Dak NGETOP. . :D (Saya memang orangnya Ekspresif, jadi gak bisa menyembunyikan Rasa)
Beliau : Hahaha (dia tertawa Garing)
Itulah awal kenalan Kami yang berujung pada Persahabatan 4 Lelaki Absurd yang Gila.
Leo begitu saya memanggilnya
Tidak disangka ternyata pada pengumuman pembagian kelompok MOS saya 1 Kelompok dengan Beliau. :p
Yah, dikelompok itu saya dipilih menjadi Ketua kelompok, dan membuat saya sedikit terbebani, karena harus memimpin sejumlah teman-teman yang tidak begitu saya kenal.
Leo pernah bilang pada saya.
Beliau : Lid ! dulu aku kira kau itu anak paskib, abis klo kau nyiapkan barisan pasti badan kau tegap sekali (Nada bicara nya ini sedikit mengOLOK, kebetulan saya tidak tinggi bukan rendah yaa.. :P)
Saya : hahaha (tertawa Garing)
Hemm, ya itu perkenalan kita.
Leo itu seorang yang memiliki kecerdasan Linguistik yang patut saya acungi jempol, berkat dia, saya setidaknya bisa BaBiBuBeBo dalam Bahasa Inggris, dia orangnya mudah bergaul.
Dan agak sedikit tempramental, klo menurut saya.
Berhubung Fotonya gak Saya bawa di FlashDisk Saya, jadi saya tampilkan Link Akun Jejaring Sosial dia Afnindy Leo Putra .
Leo ini juga Sangat Maniak Manga. Salah satu kebisaannya yang sangat saya kagumi adalah Leo Bisa Menggambar Dengan Apik segala macam Kartun Jepang. :)
Saya Bangga Punya Teman Seperti Mereka.
*to be Continued*
Langganan:
Postingan (Atom)