Rabu, Januari 19, 2011

Esai apa Essay ?


Pangeran Ketujuh

Pada rabu tengah hari, lahir bayi laki-laki  dengan kulit putih bersih tepat sehabis azan zuhur. Kalender menunjukan tanggal 17 Oktober 1990 kala itu. Ibu dari bayi laki-laki itu kemudian mengalami pendarahan dan segera dibawa kerumah sakit oleh bidan yang bertanggung jawab untuk mendapatkan pertolongan.
Bayi laki-laki yang dilahirkan itulah aku, nama lengkap yang diberikan kepadaku adalah Ya’ Muhammad Maulidin, nama yang diberikan bukan dari ayah maupun ibuku, tetapi nama yang diberikan oleh semacam sahabat dekat dan masih ada hubungan saudara dengan ayahku. Entah kenapa ayahku memberi kepercayaan kepada sahabatnya itu untuk memberi nama kepadaku, Nama yang ku pikir mengandung doa yang dalam dan harapan yang besar terbeban kepadaku. Aku anak bungsu dari 7 bersaudara, dengan saudara tertua wanita yang memiliki jiwa yang besar dan aku banyak belajar dari saudara-saudara ku. Jika kujelaskan namaku, maka begini penjelasannya, Ya’ itu adalah semacam marga atau gelar yang diberikan kepada keturunan-keturunan keraton atau raja-raja, itu gelar untuk lelaki, sedangka wanita Nyemas, begitu yang aku ketahui. Sedangkan nama Muhammad dan Maulidin adalah nabi dari agama yang ku anut. Aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang sangat sederhana, karena ayahku meninggal pada saat aku berumur 2,5 tahun dan hanya meninggalkan pensiun kepada kami semua, untuk itu ibuku mencari tambahan dengan bekerja apa saja, yang aku ketahui beliau menjadi buruh pengangkut pasir dan batu, terkadang sepulang sekolah atau hari libur aku juga turut membantu. Lalu, perusahaan pasir itu bangkrut dan ibuku beralih menjadi petani karet, karet yang dimiliki perusahaan.
Pengalaman mulai dari belum sekolah hingga sekarang ketika aku mulai menjejaki bangku kuliah, aku belajar tentang menghadapi diri sendiri. Selama 5 Tahun di Sekolah Dasar aku belum pernah sekalipun mendapatkan peringkat pertama maupun kedua dikelas, entah kenapa yang mendapat peringkat tersebut adalah anak salah satu guru yang kebetulan mengajar di SD tersebut.  Padahal aku sudah belajar semampu yang aku bisa ketika itu. Menurutku aku tidak terlalu bodoh dan nilai harianku juga selalu memuaskan. Aku selalu berusaha agar mendapatkan peringkat 2 ataupun 1, jerih payahku terjawab pada kelas 6 aku berhasil mendapatkan peringkat satu pada semester ganjil dan yang menduduki 3 besar adalah orang-orang yang tidak langganan juara pada 5 tahun terakhir, ini karena guru pengajar bukan lagi salah satu orang tua dari muridnya. Melalui kejadian itu aku belajar bahwa sesuatu kebenaran harus selalu di perjuangkan.
Kemudian ketika menduduki bangku Sekolah Menengah Pertama, aku bertemu dengan teman-teman yang membuatku selalu giat untuk belajar, mereka semua teman-teman yang memiliki kemampuan yang sangat luar biasa, dari sinilah aku belajar bekerja dalam tim sepenuhnya. Tugas yang diberikan oleh guru yang mengharuskan kami semua untuk bekerja secara berkelompok membuat ke egoisan masing-masing dari kami luntur, “untuk menjadi yang terbaik bukan menjatuhkan sesama, tapi bagaimana membuat kita semua mengerti proses bersaing,” begitu kata guru Matematikaku. Bekerja dalam tim memang tidak mudah, untuk mencapai kemudahan itu kita harus mengerti satu dengan yang lain.
Orang bilang: “ masa-masa SMA adalah masa yang tidak terlupakan,” kata-kata itu ada benarnya dan sangat aku mendukung itu. Permulaan SMA aku mulai lebih giat lagi untuk belajar karena setelah dari sini akan dimulai kehidupan yang baru yaitu ‘kuliah.’ Memasuki SMA tidaklah mudah bagiku, karena ketika itu SMA favorit di daerahku dan kebetulan abang iparku sebagai salah satu staf Tata Usaha, sehingga aku harus berusaha keras menghilangkan pandangan bahwa aku lulus di SMA ini bukan karena ada abang iparku disana. Aku mengikuti tahap seleksi tertulis dan lolos dengan great nilai 82 dari 100 soal campuran, hasil tes dibacakan hari itu juga didepan peserta test yang lain.
Perjalanan di SMA semakin asik saja, kelas 10 pertengahan semester genap tiba-tiba aku diutus bersama temanku seorang siswi untuk pergi ke Pontianak menghadiri Loka Karya yang diadakan salah satu LSM di Kalimantan Barat. Disana aku bertemu dengan teman-teman  baru dari kabupaten dan kota lain. Aku merasakan aku mendapati diriku sebagai seseorang yang mudah bergaul dan selalu ingin di akui keberadaannya. Benar saja, aku pun dipilih sebagai salah satu ketua tim ketika pembagian kelompok untuk memberikan aksi mengenai wajah pendidikan di Kal-Bar pada saat itu. Aku termasuk orang yang mudah bergaul, sehingga tidak sulit bagiku untuk akrab dengan siapa saja.
Tahun berganti, aku naik kelas 11. Aku memilih jurusan IPA, sebelum naik kelas 11 sebulan sebelumnya aku dikirim ke Palembang untuk menjadi peserta Jumbara Nasional PMR VI, untuk mencapai tahap ini aku sebelumnya seleksi di sekolah dahulu. Aku merupakan Junior di PMR SMA ku pada waktu itu, melihat pengumuman bahwa akan ada seleksi untuk di kirim ke Jumbara Daerah, aku niatkan diri untuk ikut seleksi. Tapi takdir berkehendak lain, pada saat waktu seleksi aku sakit sehingga tidak bisa hadir, aku kecewa. Namun, aku berusaha agar aku dapat ikut seleksi juga, ternyata ada teman yang senasib, ada sekitar 8 orang sehingga kami meminta agar kami diseleksi, alhasil seleksi yang diharapkan adalah berupa menuliskan artikel mengenai PMR kala itu. Aku lulus seleksi dan aku dikirim ke Jumbara Daerah dan aku juga lulus seleksi untuk mewakili kalbar ke Jumbara Nasional di Palembang.
Aku juga pernah mewakili Kal-Bar di Bulan Bahasa, saat itu lomba musikalisasi puisi, sayangnya kami tidak berhasil membawa pulang piala.
Kelulusan tiba, aku lulus dari SMA dan Mengikuti seleksi Universitas, aku Lulus namun tidak sesuai dengan jurusan yang aku harapkan sehingga aku memilih seleksi lagi dan lulus aku mengambil jurusan Akuntansi yang sangat bertolak belakang dengan jurusanku, namun inilah tantangan yang harus aku hadapi. Kampusku yang sekarang aku mengikuti salah satu organisasi kemahasiswaan dan dari situlah aku berhasil menjadi delegasi mewakili kampus untuk pengembangan wawasan Internasional ke Korea Selatan. Aku harus mengikuti seleksi kampus dulu, dengan wawancara yang dilakukan dan kemudian membuat makalah untuk dikirim ke Direktorat Pendidikan Tinggi, ada beberapa masalah yang tidak harus kuceritakan karena melibatkan beberapa pihak dalam masalah tersebut.
Menjadi anak bungsu menjadi beban tersendiri bagiku, karena harus memiliki telinga yang kebal untuk dibanding-bandingkan serta harus rela menjadi bulan-bulanan kejahilan oleh saudara-saudara yang lain. Namun, aku senang menjadi anak ke-7 dan bungsu dari saudara-saudara yang membuat aku belajar untuk tidak mengeluh dengan keadaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar