Sabtu, Maret 05, 2011

Ratu dengan 4 Putri dan 3 Pangeran (Part I) -Lanjutan

ini lanjutan yang kemarin ya.

Namun bukan berarti ayahku tidak pernah memukul. bagiku itu bukanlah kekerasan, itu hanya pelajaran yang ayahku berikan kepada abangku, yang menurutku itu memang sudah keterlaluan, begitu yang aku dengar cerita dari kakak-kakak ku, aku tidak ingat pasti apa ceritanya, yang jelas itu adalah kesalahan abangku yang tidak mau mendengar perkataan ayahku.
Itu hanya cerita lain, setelah kepergian ayahku, kami semua harus bangkit, harus bangkit dari kesedihan, dari semua hal yang tak berguna untuk disesali. Langkah pertama yang ibuku lakukan adalah, dengan menjual rumah kami, hanya sekedar informasi, kami sudah pernah pindah rumah sebelumnya, dulu kami sekeluarga tinggal di Rumah Panggung (Rumah Khas Melayu) di tempat inek (panggilan melayu ngabang untuk nenek), tepatnya didesa raja. Waktu itu aku belum lahir, jadi aku tidak tahu pasti kronologis kepindahan kami.
 Ibuku pun menjual rumah kenangan itu, rumah dimana ada tawa dan kesedihan ayah, rumah dimana pernah ada teriakan kemarahan ayah pada saudara-saudaraku (aku belum pernah dimarah mungkin, maklum masih kecil), tiada lagi kata, "jangan main sampai magrib," itulah kata yang sering ayahku bilang pada saudara-saudaraku, maklum saja, didekat rumah banyak anak yang seumuran dengan mereka.
Akhirnya kepindahan itu terjadi, kami sekeluarga (lagi-lagi tanpa ayah) pindah ke daerah pasar, lebih tepatnya namanya pasar jati, aku tidak ingat pasti kepindahan itu berlangsung bagaiman, yang aku ingat rumah yang kami tinggali itu adalah RuKo (rumah toko) bekas pabrik air bersoda (aku menyebutnya Pipo), disanalah kami merajut kembali kehidupan baru dengan seorang Ratu dan 7 orang Anaknya.
Untuk menghidupi kami, ibuku bekerja sebagai buruh kasar tambang pasit didekat rumah, dibelakang rumahku 20 meter ada sungai, dan disana banyak penambang pasir dan batu. Pengahasilan dari menggangkut pasir menggunakan semacam keranjang yang di gendong (Enge, nama daerahnya) lumayan untuk makan, lalu pasti bertanya bagaimana ibu membiayai sekolah ?
Ayah meninggal sebagai PNS, sehingga ada dana pensiun yang diberikan, setidaknya saudara-saudaraku masih bisa bersekolah.
Aku masih ingat betul, aku sering membantu ibu mengangkut pasir itu juga namun dalam jumlah sedikit, aku merasakan panas yang juga ibu rasakan, merasakan haus yang ibu rasakan, namun tak ada keluar sedikitpun keluhan dari mulutnya.
Karena didaerahku masih banyak hutan, biasanya ibuku setelah bekerja mencari sayuran hutan berupa pakis atau memetik daun katuk (kami menyebutnya cangkok) di belakang rumah.
untuk lauk, karena disaudara aku tidak suka makan ikan, jadi ibu selalu membelikan ayam, namun jika tidak ada uang, ceker atau sayapnya pun ibuku belikan agar aku mau makan.
Selain bekerja sebagai buruh kasar, ibuku juga bekerja bersama seorang tionghoa, yang hingga saat ini aku tidak tahu pasti namanya, namun biasanyaa aku memanggilnya kak chu , ibuku adalah seorang yang gaul (pada zamannya) karena apa, beliau begitu banyak teman mulai dari berbagai suku dan agama.
suatu ketika aku pernah bertanya.
" Mak, ngape beh umak suke jalan-jalan same kak chu ? dia kan china," tanyaku dengan nada lugu
"Jangan pernah milih-milih dalam bekawan, walaupun beda suku, inyankan hanya identitas, inyan yang jadi kebanggaan, kelak suatu saat direk (kita) pasti butuh bantuan dan dua' die (mereka) juga butuh bantuan dire', jadi bekawan dengan siape jak dak akan membuat direk rugi, " jawab ibu ku.
Maklum saja, namanya anak kecil selalu ingin tahu sesuatu yang tidak ia mengerti.
*bersambung*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar