Senin, Maret 28, 2011

Curhat : Belajar Bahasa Asing itu Penting !

So, Its my experience. Jadi disemester yang baru ini aku mendapat mata kuliah baru, namanya pengukuran kinerja, nah buat anak-anak Ekonomi pastinya sudah tahu. Referensi bukunya belum ada dari Indonesia, karena itu sudah bisa ditebak bahwa seluruh teori yang didapat berasal dari luar, tentunya dalam bahasa asing. Ini yang banyak buat teman-teman sekelas mengeluh dan termasuk aku yang sedikit mengeluh, bayangkan saja, buku wajib pegangan yang diberikan oleh Dosenku adalah karya Theodore H. Poister, buku ini full English, dan dengan kata-kata baku yang kadang membuat aku sedikit kewalahan untuk menterjemahkannya. Ini dia faktor penting dari hal yang ingin aku ceritakan disini. Belajar dan mengerti bahasa asing itu sangat penting,    apapun itu, setidaknya kita bisa mengerti salah satu bahasa asing didunia ini, misalnya Mandarin, dan yang terpenting itu pasti Inggris. Sekarang Aku sedang Mendalami Bahasa Negeri Ginseng yaitu Korea dan selanjutnya aku ingin belajar bahasa Rusia atau negeri Eropa Lain, aku pikir karena mereka menggunakan Huruf yang berbeda dari Negara Lain Kebanyakan, Kalau Korea Hurufnya kita sebuat Hangul (한글) dan ini yang membuat aku tertarik untuk mempelajarinya selain hurufnya yang mudah di Ingat tata bahasanya yang Indah dan enak didengar, setelah itu Cyliric, huruf rusia ini lucu dan agak ribet untuk dipelajari, karena kita belum terbiasa dengan huruf-huruf yang dibalik.
well, itu saja post aku kali ini. semoga kita selalu bersemangat untuk belajar bahasa asing apapun itu.

Sabtu, Maret 05, 2011

Ratu dengan 4 Putri dan 3 Pangeran (Part I) -Lanjutan

ini lanjutan yang kemarin ya.

Namun bukan berarti ayahku tidak pernah memukul. bagiku itu bukanlah kekerasan, itu hanya pelajaran yang ayahku berikan kepada abangku, yang menurutku itu memang sudah keterlaluan, begitu yang aku dengar cerita dari kakak-kakak ku, aku tidak ingat pasti apa ceritanya, yang jelas itu adalah kesalahan abangku yang tidak mau mendengar perkataan ayahku.
Itu hanya cerita lain, setelah kepergian ayahku, kami semua harus bangkit, harus bangkit dari kesedihan, dari semua hal yang tak berguna untuk disesali. Langkah pertama yang ibuku lakukan adalah, dengan menjual rumah kami, hanya sekedar informasi, kami sudah pernah pindah rumah sebelumnya, dulu kami sekeluarga tinggal di Rumah Panggung (Rumah Khas Melayu) di tempat inek (panggilan melayu ngabang untuk nenek), tepatnya didesa raja. Waktu itu aku belum lahir, jadi aku tidak tahu pasti kronologis kepindahan kami.
 Ibuku pun menjual rumah kenangan itu, rumah dimana ada tawa dan kesedihan ayah, rumah dimana pernah ada teriakan kemarahan ayah pada saudara-saudaraku (aku belum pernah dimarah mungkin, maklum masih kecil), tiada lagi kata, "jangan main sampai magrib," itulah kata yang sering ayahku bilang pada saudara-saudaraku, maklum saja, didekat rumah banyak anak yang seumuran dengan mereka.
Akhirnya kepindahan itu terjadi, kami sekeluarga (lagi-lagi tanpa ayah) pindah ke daerah pasar, lebih tepatnya namanya pasar jati, aku tidak ingat pasti kepindahan itu berlangsung bagaiman, yang aku ingat rumah yang kami tinggali itu adalah RuKo (rumah toko) bekas pabrik air bersoda (aku menyebutnya Pipo), disanalah kami merajut kembali kehidupan baru dengan seorang Ratu dan 7 orang Anaknya.
Untuk menghidupi kami, ibuku bekerja sebagai buruh kasar tambang pasit didekat rumah, dibelakang rumahku 20 meter ada sungai, dan disana banyak penambang pasir dan batu. Pengahasilan dari menggangkut pasir menggunakan semacam keranjang yang di gendong (Enge, nama daerahnya) lumayan untuk makan, lalu pasti bertanya bagaimana ibu membiayai sekolah ?
Ayah meninggal sebagai PNS, sehingga ada dana pensiun yang diberikan, setidaknya saudara-saudaraku masih bisa bersekolah.
Aku masih ingat betul, aku sering membantu ibu mengangkut pasir itu juga namun dalam jumlah sedikit, aku merasakan panas yang juga ibu rasakan, merasakan haus yang ibu rasakan, namun tak ada keluar sedikitpun keluhan dari mulutnya.
Karena didaerahku masih banyak hutan, biasanya ibuku setelah bekerja mencari sayuran hutan berupa pakis atau memetik daun katuk (kami menyebutnya cangkok) di belakang rumah.
untuk lauk, karena disaudara aku tidak suka makan ikan, jadi ibu selalu membelikan ayam, namun jika tidak ada uang, ceker atau sayapnya pun ibuku belikan agar aku mau makan.
Selain bekerja sebagai buruh kasar, ibuku juga bekerja bersama seorang tionghoa, yang hingga saat ini aku tidak tahu pasti namanya, namun biasanyaa aku memanggilnya kak chu , ibuku adalah seorang yang gaul (pada zamannya) karena apa, beliau begitu banyak teman mulai dari berbagai suku dan agama.
suatu ketika aku pernah bertanya.
" Mak, ngape beh umak suke jalan-jalan same kak chu ? dia kan china," tanyaku dengan nada lugu
"Jangan pernah milih-milih dalam bekawan, walaupun beda suku, inyankan hanya identitas, inyan yang jadi kebanggaan, kelak suatu saat direk (kita) pasti butuh bantuan dan dua' die (mereka) juga butuh bantuan dire', jadi bekawan dengan siape jak dak akan membuat direk rugi, " jawab ibu ku.
Maklum saja, namanya anak kecil selalu ingin tahu sesuatu yang tidak ia mengerti.
*bersambung*

Rabu, Maret 02, 2011

Ratu dengan 4 Putri dan 3 Pangeran (Part I)

di post kali ini, cerita Khusu, tentang IBU aku.




kami adalah dengan jumlah saudara yang cukup banyak, maklum saja, dulu program KB belum gencar dikampungku. aku memiliki 6 saudara lagi, aku anak bungsu, artinya Ibu ku punya 7 orang anak. yah, mungkin hal yang wajar jika saja kami ber-7 memilik seorang ayah dan seorang Ibu. namun, yang membuat kalian akan tersentak adalah, ibuku merupakan seorang single parent. harus menghidupi 7 orang anak sekaligus, harus membiayai segala macam kebutuhan kami. saat itu, saat dimana dimulai kehidupan baru untuk Ibuku, aku dan saudara-saudaraku. tepat pada saat aku berumur sekita 2 tahun setengah bulan, sang raja dikeluarga kami pergi, pergi menghadap raja yang lebih tinggi lagi. Ayahku pergi, meninggalkan kami, Istri dan anak-anaknya, pergi disaat Putri tertuanya akan lulus dari SMA dan ingin melanjutkan kuliah, kejadian itu terpaksa membuat Kakakku itu memupuskan harapannya sendiri untuk menjadi calon guru.

Ayahku pergi tidak meninggalkan Harta atau warisan seperti raja-raja lain, tidak meninggalkan tahta yang megah atau semacamnya, dia hanya meninggalkan ILMU , ilmu yang diajarkan ke Ibuku bagaimana mendidik anak-anaknya kelak, mendidik anaknya setidaknya berguna untuk dirinya sendiri dan lingkungannya, ayahku Tegas dan dia tidak pernah mengajarkan kekerasan dalam ketegasannya.

*bersambung*