Ungkapan yang benar adanya, bagi saya ini adalah ungkapan yang tak dapat kita sangkal, bahkan seperti apapun kondisi 'rumah' kita itu.
Rumah bak induk, kita adalah anaknya. Kemanapun kita pergi, takkan kita pergi selamanya, ada waktunya kita (pasti) akan kembali pula- ke rumah. Kemana lagi? tak mungkin kita kembali ke tanah orang, bukan?
Bagi saya rumah adalah segala-galanya, namun sebagai anak lelaki yang bungsu pula. Saya ingin terbang jauh, pergi kemana saja, bahkan jika ada ujung dunia sekalipun.
Publikasi kali ini, saya tak ingin menceritakan rumah saya. Mungkin bisa dikatakan Rumah saya yang sebenarnya. Saat ini, saya sedang rindu-rindunya pada rumah kedua saya, rumah yang selalu jadi tempat saya belajar, bercengkrama denga para pemimpi, bercanda yang tak ada habisnya, hingga membuat permain-permainan baru yang belum pernah saya temukan sebelumnya. Saya ingin kalian tahu rumah kedua saya ini. Rumah yang penuh dengan kebaikan, penuh dengan semangat, penuh dengan orang-orang yang saat kita jatuh, mereka bantu kita bangkit, saat kita diatas, mereka ingatkan kita agar jangan pongah, saat kita setara, kita bekerjasama. Saya bertemu dengan orang-orang ajaib ini, saya kadang kala menghabiskan waktu yang tak terhitung detiknya lagi bersama mereka.
![]() |
| Program Iseng Excellence English Club : Mengajakr Mengumpulkan buku untuk adik-adik dengan akses pendidikan yang kurang lalu mendirikan perpustakaan mini. Sampai kini masih ada. |
Singkatnya, kak Feby biasa akrab saya sapa begitu memberikan kontak Perempuan yang saya jadikan referensi untuk Deadline kantor ini. Dua tahun lalu saya bekerja sebagai wartawan disalah satu koran terkemuka di Kalbar. Jadilah, itu tugas kantor saya, Menulis.
Saya coba hubungi kontak tersebut, nada telpon tersambung namun belum juga diangkat.
"Asslamualaikum, Halo. . ." Kata suara disebrang telpon itu.
"suaranya merdu," ujar saya dalam hati.
"Walaikumsalam, benar dengan Mbak Elisa?" Kata saya.
Saya ceritakan panjang lebar mengenai diri saya, bagaimana saya dapat kontak dia dan akhirnya dia menyetujui untuk diwawancara dan diangkat figurnya untuk Kolom saya minggu itu.
Tibalah jadwal saya mewawancarai, Dia minta untuk bertemu di kantornya (yang jadi rumah kedua saya itu) namanya Excellence English Studio, berada di lingkungan perumahan, sepetak halaman berada didepan tidak begitu luas namun cukup membuat bangunan itu terlihat seperti rumah. Pada halaman itu juga terdapat papan naman lembaga kursus bahasa inggris yang murah namun tak murahan itu.
"Assalamualakum," Ucap saya sambil mengetuk pintu.
"Walaikumsalam, silahkan masuk." kata Mbak Elisa (Sebenarnya saya pangil dia Kak Elisa sih)
Tepat dugaan saya, dia adalah orang yang memang saya ketahui. Dari mulut ke mulut dia sudah tersohor pada waktu saya semester 2 empat tahun lalu. Tersohor karena kepiawaiannya bermain Sape' (dan baru saya tahu setelah dia bercerita dia tidak pandai benar bermain alat musik tradisional Dayak ini).
Hari itu kami mulai dengan berkenalan terlebih dahulu, lalu karena ingin langsung pada kerjaan, saya langsung mewawancarainya dengan cukup lama. Akhirnya dapat juga untuk minggu ini, kata saya dalam hati. Namun meski kewajiban saya untuk mewawancarai telah tuntas, saya masih tertahan disana. Entah kenapa, kami masih bercerita dari mulai hal-hal berbau akademik hingga impian-impian. Kami mulai akrab, kebetulan waktu itu bahasa inggris saya tidak begitu baik. Saya putuskan untuk mengambil kelas. Tapi Dia justru merekomendasikan saya dulu untuk masuk kedalam Klub Bahasa Inggris yang bernama sama, Excellence English Club. Masuklah saya kesana, dalam Klub orang-orang ajaib itu.
Hari pertama saya masuk dalam Klub itu, saya dibohongi habis-habisan. Ada yang mengenalkan diri sebagai mahasiswa kedokteran yang sebenarnya bukan, ada yang mengatakan dirinya masih SMA sampe ada yang mengatakan dirinya Princes. Saya hanya tertawa saja waktu itu.
Lambat laun saya masuk juga akhirnya kedalam kelas Excellence English Studio. Tutor saya adalah Mbak Elisa yang dipanggil Miss Elisa. Seminggu sudah saya jadi murid Excellence, saya mulai banyak kenal orang-orang dibalik Excellence.
Saya mulai kenal partner dalam business yang digeluti mbak Elisa di lembaga bahasa asing itu. Namanya Mbak Dwi, suaranya tak asing bagi saya. Ternyata memang dia adalah penyiar radio yang cukup sering saya dengar. Tak bisa saya berkata, Elisa dan Dwi ini tak bisa dipisahkan. Wanita yang begitu kompak bahkan candaan mereka kalau bertemu diluar akal sehat saya sebagai laki-laki.
Saya kenal juga salah satu guru yang ternyata teman saya (dikantor saya yang kedua, saya bekerja dua tempat di Koran dan Komisi bentukan pemerintah). Dia ternyata sudah lama bekerja disitu. Rio sebagai tutor paling 'ribut' kalau mengajar. Dia sangat Hyperactive dan senang bernyanyi meski kadang out of tune (piss).
Lalu saya mulai kenal orang-orang didalam English Klub yang luar biasa ajaibnya. Wanita tangguh, mantan paskibra, Kak Desi. Wanita yang pertama kali berkenalan dengan saya sebagai mahasiswa kedokteran (dan saya percaya) tapi ternyata bukan mahasiswa kedokteran, Kak Mia yang kalau membuat kue lezat sekali. The Commander yang bertubuh besar, saya sering dibully "pendek", Bang Sony. Kak Feby yang pandai berperan antagonis, dia spesialis peran Ibu Tiri Jahat.
(Bersambung)
catatan: Cerita lengkap bersama orang-orang ajaib ini akan ada beberapa episode
heheee tunggu ya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar